Apakah Dengan Mengingat Tuhan Disaat Senang, Kita Akan Mendapat Pertolongan Disaat Susah?

mengingat tuhan

Pertanyaan

Saya pernah menemukan tulisan di salah satu kolom di koran. Disana tertulis, “Mengingat Tuhan di kala suka menyebabkan Tuhan akan mengingat di kala susah.”

Kemudian saya menarik kesimpulan bahwa orang – orang yang soleh pasti akan mendapat pengawasan dari Tuhan dalam setiap langkah hidupnya. Tapi fakta di lapangan berbeda dengan apa yang saya baca di koran.

Tidak sedikit guru spiritual di luar sana yang kemalingan, kena copet bahkan meninggal karena dibunuh. Menurut Bapak bagaimana ?

 

Jawaban

Tidak semua bentuk pengawasan Tuhan bisa tampak oleh kedua bola mata, dan tidak semuanya hanya berupa pertolongan saat sedang tertimpa musibah. Dalam agama, seseorang tidak hanya wajib ikhtiar (usaha), namun juga harus tawakkal (berpasrah atas segala ketentuan dari Tuhan) setelahnya.

Berbicara mengenai tulisan yang ada di koran, saya juga pernah membaca kolom koran yang di tulis oleh salah seorang penulis buku seputar spiritual dan tenaga dalam. Atau mungkin anda juga pernah menemukan tulisan ini di salah satu koran yang anda baca,

Yaitu kisah seorang guru yang rumahnya beberapa kali akan dijadikan sasaran maling tapi gagal. Bahkan hingga ada maling yang terlempar dan terjerembab di lantai.

Nah tepat pada bulan Juni di tahun 1995, sang penulis bertemu dengan guru tersebut. Di hari itu guru tersebut  bercerita baru saja dari Jakarta dan mengalami kecopetan. Uangnya 350 ribu pun hilang.

Namun ketika guru tersebut menceritakan hal itu pada penulis, beliau sama sekali tidak merasa harga dirinya akan turun atau nama baiknya akan hilang di mata orang lain.

Kenapa guru tersebut bisa bersikap seperti itu? Apalagi kalau bukan karena sadar akan nilai – nilai agama (mengingat Tuhan). Apapun pekerjaan dan jabatan seseorang, semua itu tidak lepas dari takdir Tuhan.

Manusia harus ingat, bahwa mereka tercipta sebagai makhluk yang akan kembali ke fitrah setiap saat.

Seorang manusia harus siap menerima ketentuan dari Tuhan. Satu sisi, manusia bukanlah apa – apa (makhluk lemah/dhoif), sedang di sisi lain manusia adalah sebaik-baik ciptaan Tuhan.

Seseorang tak perlu merasa memiliki sebuah ilmu yang kuat, karena manusia bisa menjadi kuat dan lemah tergantung dari kehendak Tuhan.

Pertanyaan mengenai seorang guru atau ahli spiritual yang kemalingan, setara dengan pertanyaan mengapa dokter atau anak dokter bisa terserang penyakit bahkan meninggal karena penyakitnya. Hati – hati dalam memahami hikmah dibalik gagalnya ikhtiar (usaha).

Anda tahu kisah seorang profesor ahli syaraf di Jerman ?. Prestasi tingginya dalam dunia syaraf bahkan pada akhirnya tidak mampu menolong anak kandungnya yang menderita bagian syaraf hingga akhirnya meninggal dunia.

Ini bisa kita simpulkan bahwa keahlian seseorang juga sebenarnya hanya bagian dari ikhtiar. Hal setelahnya bukan kita yang menentukan.

Saya tambahkan dengan kisah Rasulullah yang suatu hari di ancam akan di bunuh. Padahal saat itu pedang sudah hampir mengenai leher Rasululah, namun yang mengancam tiba – tiba kehilangan tenaga. Ketika ditanya siapa sebaik-baik pelindung, dia bisa menjawab bahwa satu-satunya pelindung baginya adalah Tuhan.

Juga kisah Ubay bin Kholaf yang meninggal hanya karena pukulan pelan dengan sisi tombak. Dan di kisah yang lain, Rasulullah juga pernah dilempari batu orang kafir menyebabkan beberapa giginya tanggal. Rasulullah juga tetap memakai baju pelindung ketika perang melawan orang kafir.

Semua itu membuktikan bahwa manusia harus siap dalam segala keadaan yang telah di  gariskan Sang Pencipta.

Untuk pertanyaan anda mengenai guru yang dibunuh padahal ia adalah seorang yang rajin zikir, ini bukan berarti mengingat Tuhan tidak memberi dampak bagus bagi hidupnya. Anda harus menilik kembali ajaran tauhid tentang lahir dan matinya manusia semua juga sudah tertulis di Lauhul Mahfud.

 75 total,  1 dilihat hari ini